Epistemologi Tafsir Burhani
Tafsir Burhani

Kata Burhani berasal dari Bahasa Arab yaitu Burhan yang berarti argumen, jelas, dan dapat membedakan. Epistemologi Burhani merupakan pembuktian suatu proposisi dengan proposisi lain yang sudah terbukti secara aksiomatik (manfaatnya) dengan cara pendekatan deduksi atau penarikan kesimpulan(menurut istilah logika). Tafsir Burhani lebih mengedepankan kekuatan natural manusia. Untuk mendapatkan pengetahuan Burhani ini harus menggunakan aturan al-Qiyas al-Jam’i atau silogisme yang memiliki arti mengumpulkan. Aturan silogisme ini mengumpulkan argumen dari dua proposisi sehingga tercipta sebuah konklusi atau keputusan. Silogisme tidak 100 persen menggunakan akal atau rasio tetapi juga menggunakan objek-objek lain, maka dari itu sebelum menggunakan aturan ini akan di lalui beberapa tahapan, yaitu: tahap pengertian (ma’qulat); tahap penyertaan (ibarat); dan tahap penalaran (tahlili). Penarikan kesimpulan menggunakan silogisme ini harus memenuhi beberapa syarat, menurut al-Jabiri. Syarat ini antara lain adalah mengetahui latar belakang premis (dua proposisi); adanya konsistensi logis dari alasan dan kesimpulan; kesimpulan yang diambil harus bersifat pasti dan benar.
Menurut Amin Abdullah, sumber pengetahuan Burhani berasal dari realitas, baik realitas sosial, alam, humaniora maupun agama. Ilmu-ilmu yang muncul dari pengetahuan Burhani bukan hanya sekedar berasal dari otoritas teks saja tetapi juga dari konsep,yang disusun secara sistematis oleh premis-premis melalui logika. Pengetahuan Burhani disusun berdasarkan hasil penelitian baik secara lapangan maupun literitur. Akal digunakan hanya untuk mencari sebab-akibat.
Setelah itu, Agus Najib memberikan pendapat dengan mengatakan bahwa akal memiliki peranan yang sangat penting dalam pengetahuan Burhan,hal ini dikarenakan akal digunakan untuk mencari nilai realitas dalam premis-premis logika. pengetahuan Burhani ini telah digunakan secara konsisten di Andalusia, tepatnya di Cordova. Digunakan dari masa Dinasti Umayyah sampai Dinasti al-Murrabitun, lalu digunakan lagi pada masa Dinasti al-Muwahidiyyah. Syarat dari premis-premis Burhani adalah benar dan dapat meyakinkan, menurut pendapat al-Farabi.
Dalam khazanah pemikiran filsafat islam berkembang tiga jenis epistemologi pemikiran yang yang dalam hal ini Abid Al Jabari menyebutkan dengan menggunakan tiga istilah bayani, burhani, dan irfani, epistemologI ini bias diterapkan dalam memahami makna yang didalam al Qur’an, salah satunya adalah epistemologi burhani. Epistemologi Burhani adalah metodoloi berfikir yang berpusat pada akal, realitas, atau al waqi’ (realitas alam dan sosial) Ilmu-ilmu yang lahir dari tradisi burhani disebut dengan al ilmu al husuli ,yakni ilmu yang tersusun dan kosepnya disistematiskan lewat almantiq dan bukanya lewar otoritas teks, Dengan nalar ini pada tahap tertentu keberadaan teks suci dan pengalaman spiritual hanya dapat diterima jika sesuai dengan aturan logis.
Menurut Amin Abdullah, sumber pengetahuan Burhani berasal dari realitas, baik realitas sosial, alam, humaniora maupun agama. Ilmu-ilmu yang muncul dari pengetahuan Burhani bukan hanya sekedar berasal dari otoritas teks saja tetapi juga dari konsep,yang disusun secara sistematis oleh premis-premis melalui logika. Pengetahuan Burhani disusun berdasarkan hasil penelitian baik secara lapangan maupun literitur. Akal digunakan hanya untuk mencari sebab-akibat.
Setelah itu, Agus Najib memberikan pendapat dengan mengatakan bahwa akal memiliki peranan yang sangat penting dalam pengetahuan Burhan,hal ini dikarenakan akal digunakan untuk mencari nilai realitas dalam premis-premis logika. pengetahuan Burhani ini telah digunakan secara konsisten di Andalusia, tepatnya di Cordova. Digunakan dari masa Dinasti Umayyah sampai Dinasti al-Murrabitun, lalu digunakan lagi pada masa Dinasti al-Muwahidiyyah. Syarat dari premis-premis Burhani adalah benar dan dapat meyakinkan, menurut pendapat al-Farabi.
Dalam khazanah pemikiran filsafat islam berkembang tiga jenis epistemologi pemikiran yang yang dalam hal ini Abid Al Jabari menyebutkan dengan menggunakan tiga istilah bayani, burhani, dan irfani, epistemologI ini bias diterapkan dalam memahami makna yang didalam al Qur’an, salah satunya adalah epistemologi burhani. Epistemologi Burhani adalah metodoloi berfikir yang berpusat pada akal, realitas, atau al waqi’ (realitas alam dan sosial) Ilmu-ilmu yang lahir dari tradisi burhani disebut dengan al ilmu al husuli ,yakni ilmu yang tersusun dan kosepnya disistematiskan lewat almantiq dan bukanya lewar otoritas teks, Dengan nalar ini pada tahap tertentu keberadaan teks suci dan pengalaman spiritual hanya dapat diterima jika sesuai dengan aturan logis.
Komentar
Posting Komentar