CARA KAUM SUFI DALAM MEMBANGUN MORALITAS PEMUDA PADA ERA MODERN

1.    Mempromosikan Tasawuf
Imam Ghazali adalah salah satu tokoh yang mempromosikan kembali tasawuf pada abad ke 12, lepas dari beberapa pandangan "ekstrem"-nya, yang berhasil menunjukkan ketakterpisahan cara hidup tasawuf dengan ajaran Islam itu sendiri, setelah sebelumnya tasawuf sempat dianggap bid'ah oleh sebagian kalangan muslim sendiri. Lebih dari itu, stelah melepaskan asosiasi tasawuf dengan sebagian besar spekulasi filosofis dan praktik-praktik "kemabukan" (sukr), sang Hujjatul Islam berhasil menawarkan tasawuf berbasis syariat yang dipromosikannya sebagai cara hidup keislaman yang paling autentik . Pentingnya promosi tasawuf ini di latar belakangi oleh, sedikitnya, dua alasan.
Pertama , tasawuf, betapapun juga, adalah salah satu cara pandang terhadap ajaran islam yang melengkapi cara-cara pandang lainnya, seperti fiqih, teologi islam (kalam), dan filsafat. Ia bukan saja sama sahnya dengan cara-cara pandang yang lain itu, melainkan terbukti merupakan salah satu kebutuhan dalam pemahaman dan penghayatan islam sebagaimana terbukti oleh sejarahnya yang amat panjang, bahkan sejak masa Rasulullah dan para sahabatnya. Di masa kita sekarang, bahkan lebih dari di masa-masa lampau, lahir kebutuhan baru terhadap tasawuf mengingat tantangan dan godaan hidup menjadi makin besar. Bersama dengan makin canggihnya perkembangan peradaban manusia, makin banyak pula godaan nafsu yang bisa menggelincirkan orang dari menjalankan cara hidup . Karenanya, kehadiran tasawuf sebagai sebuah wacana dan disiplin untuk melatih pemuda agar lebih siap dan kuat menghadapi tantangan dan godaan itu menjadi lebih besar.
    Disamping itu, pemuda modern juga butuh untuk mendapatkan pemuasan bagi dahaga spiritual mereka, di tengah indinidualisme (nafsi-nafsi) dan materialism era modern. Agama Kristen, yang memang lebih eksklusif bersifat spiritualistik, kelihatannya banyak mengambil manfaat dari fenomena ini. Jauh sebelum itu, pemuda modern malah berpaling kepada hal-hal yang berbau-bau barat (budaya orang Kristen). Sementara islam modernis yang dominan dimasa kini cenderung kering, terlalu rasional, dab beriorentasi legal formalistik. Nah, seperti diantara lain dianalisis dengan amat menarik oleh John D. Caputro dalam Agama Cinta, Agama Masa Depan (Mizan, Bandung, 2003), jika agama dikehendaki agar juga menarik untuk pemuda modern, maka penekanan terhadap hokum ( nomos atau dalam islam syariat) harus diimbangi oleh penekanan kepada aspek cinta (eros atau dalam islam tasawuf).
Kedua,  kita melihat belakangan ini di negeri kita ada upaya-upaya menarik mundur kebudayaan Islam negeri ini ke beberapa abad yang lalu, yakni kearah Islam yang mistik, klenik perdukunan, dan berbagai bentuk irasionalisme lainnya dengan kedok tasawuf dan tarekat. Sebagai cara meng-counter-nya, kita tak tak boleh meniru kaum modernis yang mengutuk tasawuf yang ternyata gagal juga membendungnya. Sementara korbannya adalah Islam menjadi kering dan legal formalistik. Sebentuk tasawuf yang bersifat positif perlu kita kembangkan untuk memberikan alternatif cara hidup keruhanian yang sehat dan progresif, bukan spiritualisme dekaden dan eksesif sebagaimana tampak dalam kecenderungan sebagian penganut tasawuf masa kini.
2.    Revolusi Spritual-Moralitas
Dengan demikian, bisa dikatakan, tasawuf adalah suatu “revolusi spiritual” (tsaurah ruhiyah). Tidak seperti dimensi keagamaan lainnya, tasawuf akan selalu memperbaharui dan menyamai kekosongan jiwa manusia. Kelimpahan materi yang mewarnai kehidupan dunia ini dianggap bukanlah suatu yang penting. Sebaliknya, kelimpahruahan hatilah yang menjadi penopangnya. Sang sufi adalah mereka yang kaya hatinya, tapi tidak pasif terhadap kenyataan hidup. Kehidupan di dunia ini bagi sang sufi adalah fakta yang tidak bisa diingkari. Mereka menghadapinya dengan realistis. Dengan kedekatan kepada Allah, seorang sufi akan selalu merasa percaya diri dan optimistis. Aktivisme mereka akan selalu menyala sebab semua yang dilakukan bertujuan mencari ridha Allah.
Teladan-teladan kesufian bisa dilihat dalam sejarah seperti Umar ibn Abdul Aziz, seorang raja yang bersikap asketis atau zuhud. Jabir ibn Hayyan, seorang fisikawan muslim tersohor, juga seorang pelaku tasawuf. Al-Junaid, yang dikenal sebagai sufi, ternyata  juga seorang pengusaha. Sedangkan syaikh Abu Al-Hasan Asy-Asy-Syadzili, tokoh sufi terkenal, adalah seorang petani sukses. Ini menunjukkan bahwa para sufi sesungguhnya tidaklah berjarak secara total dari dunia. Sang sufi hanya memagari dunia melalui medium pelatihan sehingga tercapai ketenangan dan keteduhan jiwa (an-nafsu-muthma’innah).
Untuk memulai ikhtiar dalam praktis tasawuf, dituntut sikap muhasabah yakni, sebuah sikap untuk terus-menerus mengintropeksi diri, untuk menjaga dan mewaspadai diri. Upaya iniakan melahirkan ketahanan diri serta terhindar dari kemungkinan pelencengan kepribadian. Hasilnya adalah sikap rendah hati, tidak arogan dan selalu memandang dirinya bersahaja ketika melakukan suatu tindakan, betapapun baiknya.
Ikhtiar lainnya adalah mu’atabah, yaitu upaya dan penyikapan yang selalu merasa bersalah (guilty feeling). Dengan demikian, seorang tidak mudah menyalahkan orang lain. Dengan cara ini, seseorang akan terhindar dari sikap merasa selalu benar dan mudah menghakimi. Kesadaran yang muncul adalah bahwa dirinya bersifat relatif, yang mutlak hanyalah Allah. Kemudian, muraqabah, yaitu upaya dan penyikapan untuk senantiasa berprasangka baik (huznuzhzhann) kepada Allah. Ini terjadi karena seseorang selalu melihat dan menyadari kelemahan dirinya. Apa yang dia perbuat demi suatu capaian tertentu akan selalu digantungkan kepada Allah. Sedangkan ikhtiar yang dilakukan semaksimal apapun disadari sebagai kemampuan manusiawi yang ada batasnya.
Ikhtiar atau pelatihan sufi ini kemudian memengaruhi penajaman hati. Manusia mempunyai hati yang tingkat “ketajamannya” bertangga-tangga, tidak tunggal, dan tidak seragam. Dengan pelatihan yang intensif dan tepat sasaran, maka akan tersingkap segala selubung dalam hati manusia. Dalam istilah tasawuf ada beberapa nama untuk menyebut hati itu: bashirah (berarti “mata hati”, eye of heart), dlamir (sikap moral), fu’ad (nurani), dan sirr ( kekuatan spiritual yang bersifat misteri). Yang tertinggi dalam khasanah sufi disebut lathifah, kekuatan spiritual yang sangat lembut. Empat jenis hati manusia ini sifatnya “kronologis” (melalui tahapan-tahapan tertentu), yang akan tersingkap melalui tahapan pelatihan spiritual, jadi terlihat bahwa puncak capaian hati adalah meraih kebijaksanaan (wisdom) yang berbasis pada kekuatan spiritual. Pada tingkatan ini, manusia akan merasakan ma’rifatullah karena sifat-sifat ilahiah telah menempel lekat pada dirinya. Perasaan ilahiah tertinggi ini sulit untuk diungkapkan dalam bentuk apapun seperti dalam kata-kata atau ungkapan verbal, karena berdasarkan pengalaman yang menukik dalam, bagai samudra tanpa tepi.
3.    Pendidikan Sufistik
Dalam konteks inilah pentingnya satu pelatihan atau pendidikan khas sufistik. Sejak awal budaya manusia, pendidikan hakikatnya merupakan proses sosialisasi dan inkulturasi yang menyebabkan nilai-nilai dan pengetahuan yang terakumulasi dalam masyarakat. Perkembangan masyarakat berjalan berkelindan dengan pertumbuhan dan proses sosialisasi dan inkulturasinya dalam bentuk yang bisa diserap secara optimalatau bahkan maksimal. Dan, tasawuf sesungguhnya bukan suatu penyikapan yang pasif atau apatis terhadap kenyataan sosial. Sebaliknya, Dr. Abu Al-‘Ala Afifi dalam studinya tentang tasawuf islam klasik, tasawuf berperan besar dalam mewujudkan sebuah revolusi moral-spiritual dalam masyarakat. Dan, bukankah aspek moral-spiritual ini merupakan ethical basics atau al-asasiyatu-akhlaqiyah bagi suatu formulasi sosial seperti dunia pendidikan? Kaum sufi adalah kelompok garda depan ditengah masyarakat. Mereka sering kali memimpin gerakan penyadaran akan adanya penindasan dan penyimpangan sosial. Dan pendidikan, yang biasanya digelar didalam maupun diserambi masjid, merupakan instrumen penyadaran itu.
Selain sebagai sebuah sikap asketis, taswuf juga merupakan metode pendidikan yang membimbing manusia kedalam harmoni dan keseimbangan total. Metode itu bertumpu pada basis keharmonisan dan pada kesatuan dengan totalitas alam. Dengan demikian, perilakunya tampak sebagai manifestasi cinta dan kepuasan dalam segala hal. Bertasawuf yang benar berarti sebuah pndidikan bagi kecerdasan emosi dan spiritual (kini dikenal dengan metode “ESQ”). Intiya adalah belajar untuk tetap mengikuti tuntunan agama, entah itu ketika berhadapan musibah, keberuntungan, kedengkian orang lain, tantangan hidup, kekayaan, kemiskinan, atau sedang dalam kondisi pengendalian diri atau pengembangan potensi diri. Sufi-sufi besar seperti Rabi’ah Al-Adawiyah, Al-Ghazali, Sirri Al-Siqthi, atau Asad Al-Muhasabi, telah memberikan teladan kepada umat bagaimana pendidikan yang baik itu. Diantaranya, berproses menuju kebaikan diri dan pribadi yang pada gilirannya akan menggapai puncak ma,rifatullah, yakni Sang Kholik sebagai ujung terminal perjalanan manusia di permukaan bumi ini.
Disadari, pendidikan yang dikembangkan selama ini masih terlalu menekankan arti penting akademik, kecerdasan otak, dan jarang sekali terarah pada kecerdasan emosi dan spiritual. Yang terakhir ini memiliki keunggulan: mengajarkan integritas, kejujuran, komitmen, visi, kreativitas, ketahanan mental, kebijaksanaan, keadilan, prinsip kepercayaan, penguasaan diri, dan sinergitas. Dalam taswuf, IQ (dzaka ‘aqli), EQ (dzaka dzihni), dan SQ (dzaka qalbi) merupakan komponen-komponen potensi kemanusiaan yang perlu dikembangkan secara harmonis. Ini agar menghasilkan daya guna yang luar biasa, baik secara horizontal dalam lingkup pergaulan antar manusia maupun secara vertikal dalam relasinya dengan yang transenden, yang Ilahi. Tanpa itu, yang muncul adalah berkecambahnya krisis dan degradasi dalam ranah moral, pemiskinan daya sumber manusiawi, dan penyempitan cakrawala berpikir yang cenderumg berkuat pada militansi sempit atau penolakan terhadap pluralitas.
Sufi besar Syekh  Ibn ‘Arabi menandaskan, manusia perlu mengembangkan apa yang dia sebut potensi “al-khayal” suatu potensi daya dan kekuatan substansial yang mengejawantahkan diri secara hakiki namun faktual. Potensi ini bergerak menuju pengungkapan diri dalam dunia indrawi, yang bersifat abadi dan azali. Demikianlah, berdasrkan aspek esensial pendidikan sufistik ini, manusia perlu dikembalikan pada “pusat eksistensi” atau “pusat spiritual”-nya. Ini agar dijauhkan dari pola-pola kehidupan yang bergerak hanya dipinggir lingkar eksistensinya. Di tengah krisis yang multidimensi itu, sekiranya yang patut dipertahankan dan dikembangkan adalah penguatan pendidikan yang berbasiskan nilai-nilai kesufian atau tasawuf yang justru akan meneguhkan autentisitas kemanusiaan yang senantiasa diberi sentuhan ilahiah.
 
    Daftar pustaka

Bagir, Haidar.2006. Buku Saku Tasawuf.Bandung: PT Mizan Pustaka.

Siroj,Said Aqil.2006. Tasawuf sebagai Kritik Sosial Mengedepankan Islam sebagi Inspirasi, Bukan Aspirasi.Bandung: PT Mizan Pustaka.

Kabbani, Muhammad Hisyam.2015. Tasawuf dan Ihsan, Terj.  A. Syamsul Rizal. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pandai Berkhayal

Epistemologi Tafsir Burhani

Biografi singkat Al-Syafi’i (Imam Syafi’i) sebagai Periwayat Hadis