Makalah ilmu mantik Nisbah al-alfadz, kulli dan juz'i
A.
Nisbah al-alfadz (korelasi lafadz)
Nisbah al-alfadz terbagi menjadi 5 (lima) macam, yaitu:
1.
Nisbah Tawathu’, yaitu hubungan lafadz dengan maknanya terdapat
kesamaan dalam hal bukti dan individu yang ditujunya. Seperti manusia dengan
saudara Thalib, Zaid dengan selain keduanya.
2.
Nisbah Tasyakuk, yaitu hubungan lafadz dengan maknanya terdapat
tingkatan kualitas dalam hal bukti individu yang dituju (afrad). Seperti
“cahaya” pada matahari, bulan dan bintang.
3.
Nisbah Takhaluf, yaitu hubungan lafadz dengan maknanya yang berbeda
dalam bukti individu yang dituju. Seperti “manusia dan kuda”.
4.
Nisbah Isytirak, yaitu hubungan satu lafadz dengan makna yang
banyak dalam bukti yang dituju satu kata banyak makna (afrad). Seperti lafadz “ainun”
yang berarti bisa matahari, mata dan sumber air.
5.
Nisbah Taraduf, yaitu sabaliknya dari nisbah istirak; lafadznya
banyak tetapi maknanya satu. Seperti, lafadz “insanun” dan “basyarun”
yang berarti satu, yaitu manusia.[1]
B.
Kull, Kulliyah, Juz’ dan Juz’iyah
1.
Kull dan Kulliyah
“Kull” (كُلٌّ) artinya: menetapkan
hukum atas sesuatu secara keseluruhan.
“Kulliyah” (كُلِيَّةٌ) artinya:
menetapkan hukum atas sesuatu secara satu persatu.
Contoh:
a.
para santeri mengangkat langgar (surau), berbeda dengan
b. para santeri
mengangkat buku (kitab).
Penjelasan:
I.1a. perkataan “para santeri mengankat langgar” ini, artinya
menetapkan hukum atas santeri-santeri secara keseluruhan, seluruh santeri.
Kull.
I. 1b. beda dengan perkataan “para santeri mengangkat buku-buku”
ini artinya para santeri, masing-masing mengangkat buku. Orang-perorang
daripada santeri masing-masing mengangkat buku.
I. 2a. tidak mungkin pada contoh “a” “santeri mengangkat langgar”
itu kemudian diartikan, seorang santeri mengangkat satu langgar, tetapi
seharusnya diartikan kumpulan dari para santeri mengangkat “sebuah langgar”.
I. 2b. dan tidak mungkin pula, pada contoh “b” para santeri
“mengangkat buku” diartikan kumpulan para santeri mengankat “sebuah buku” tapi
seharusnya diartikan seorang santeri mengangkat sebuah buku.[2]
2. Juz’ dan
Juz’iyah
Juz’ adalah
bagian dari sesuatu. Contoh: حيوان adalah bagian
dari الانسان. Penjelasan: حيوان yang menjadi juz penyusun dari الانسان (manusia) yang memiliki makna hakikat حيوان ناطق (hewan yang mampu berpikir).
Sedangkan
Juz’iyah adalah menghukumi sebagaian. Contoh: Sebagian manusia bisa menulis;
sebagian manusia suka durian; dan sebagainya.[3]
Komentar
Posting Komentar