Kebudayaan Bangsa Arab Pra-Islam


Islam yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw secara historis sosiologis disampaikan dalm konteks masyarakat Arab yang tidak hampa. Oleh karena itu, salah satu aspek penting dalam upaya memahami Islam secara holistik dan komprehensif adalah dengan memliki  pengetahuan terhadap realitas historis masyarakat di mana Islam diturunkan. Mencermati hal tersebut, secara hipotesis dapat dikatakan bahwa aspek keyakinan dan ritual dalam Islam pun tidak dapat dilepaskan dari dimensi sejarah dan hal tersebut berarti pula bahwa kondisi sosial masyarakat pra-Islam mempunyai peranan yang penting dalam mempengaruhi eksistensi Islam yang dibawa Nabi Muhammad saw.
Pemahaman konteks masyarakat sebelum kedatangan islam, memiliki peran penting setidaknya sebagai wahana kita memahami bahwa hadirnya islam memberikan kontribusi signifikan dalam kehidupan. Meskipun dalam beberapa hal ajaran-ajaran islam memiliki kesinambungan dengan ajaran yang diturunkan kepada nabi sebelumnya, namun bisa dipastikan bahwa ajaran islam memiliki kontribusi yang penting dalam membangun peradaban manusia. Pendeknya, diantara poin penting mempelajari kondisi Arab pra-Islam, kita memiliki wawasan yang luas sehingga mampu mendeskripsikan secara mudah tatkala muncul pertanyaan apa bedannya yang terjadi di Arab sebelum dan setelah kedatangan Islam.[1]  
Sebelum Islam datang dengan tampilnya Muhammad sebagai pembawa risalah, dilingkungan masyarakat Arab pernah berdiri dua kerajaan besar sebagai simbol kejayaan kebudayaan mereka pada waktu itu yaitu Kerajaan Saba’ dan Himyar. Mereka sudah mengenal bercocok tanam dan berhasil membangun sistem irigasi dengan bendungan raksasa yaitu bendungan Ma’arib.
   Rujukan lain untuk melihat adanya kebudayaan masyarakat Arab sebelum Islam, yaitu ahli sejarah mencatat ada bangunan bersejarah (Ka’bah) sebuah bangunan berbentuk persegi tanpa atap yang dikelilingi 360 patung berhala yang sekaligus sebagai tempat berziarah. [2]
Tradisi haji misalnya. Sebelum kehadiran Islam, Ka’bah di kota Mekkah merupakan tempat yang selalu ramai dikunjungi oleh masyarakat Arab setiap tahunnya untuk melaksanakan ibadah haji dan mensucikan berhala-berhala mereka yang terdapat di sekitar Ka’bah. Bahkan Ka’bah yang ada di Makkah ini bukan hanya diziarahi oleh suku-suku Arab tetapi banyak dikunjungi oleh umat Yahudi dan Nasrani di luar kota Makkah. 
   Begitu juga dalam hal berkabung karena kematian sudah ada budaya dan tradisi lokal (Arab) dalam tata cara berkabung apabila seseorang di tinggal mati oleh keluarganya. Wanita-wanita biasanya menangis histeris, menyakiti badan mereka, merobek-robek pakaian mereka dan lain sebagainya. Kemudian tradisi tersebut sebagian di tolerir oleh Islam, tetapi lainnya secara bertahap dihilangkan. Boleh menangis tetapi dilarang menjerit histeris sambil menyakiti badan atau merobek pakaian, boleh bersedih tetapi dilarang berlarut terlalu lama.[3] 


[1] Muhammad In’am Esha, Percikan Filsafat Sejarah dan Peradaban Islam, (Malang: UIN-Maliki Press, 2011), hlm.59.
[2] Khoiro Ummatin, “Tiga Model Interaksi Dakwah Rasulullah Terhadap Budaya Lokal”. Jurnal Dakwah, Vol.XV, No. 1 Tahun 2014, 191-192.
[3] Syaikhudin, “ Kearifan Dialogis Nabi atas Tradisi Kultural Arab”. Esensia. Vol.XIII No. 2 Juli 2012, 192-193.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pandai Berkhayal

Epistemologi Tafsir Burhani

Biografi singkat Al-Syafi’i (Imam Syafi’i) sebagai Periwayat Hadis