Kebudayaan Bangsa Arab Pra-Islam
Pemahaman konteks masyarakat sebelum
kedatangan islam, memiliki peran penting setidaknya sebagai wahana kita
memahami bahwa hadirnya islam memberikan kontribusi signifikan dalam kehidupan.
Meskipun dalam beberapa hal ajaran-ajaran islam memiliki kesinambungan dengan
ajaran yang diturunkan kepada nabi sebelumnya, namun bisa dipastikan bahwa
ajaran islam memiliki kontribusi yang penting dalam membangun peradaban
manusia. Pendeknya, diantara poin penting mempelajari kondisi Arab pra-Islam,
kita memiliki wawasan yang luas sehingga mampu mendeskripsikan secara mudah
tatkala muncul pertanyaan apa bedannya yang terjadi di Arab sebelum dan setelah
kedatangan Islam.[1]
Sebelum Islam datang dengan tampilnya
Muhammad sebagai pembawa risalah, dilingkungan masyarakat Arab pernah berdiri
dua kerajaan besar sebagai simbol kejayaan kebudayaan mereka pada waktu itu
yaitu Kerajaan Saba’ dan Himyar. Mereka sudah mengenal bercocok tanam dan
berhasil membangun sistem irigasi dengan bendungan raksasa yaitu bendungan
Ma’arib.
Rujukan lain untuk melihat adanya kebudayaan
masyarakat Arab sebelum Islam, yaitu ahli sejarah mencatat ada bangunan
bersejarah (Ka’bah) sebuah bangunan berbentuk persegi tanpa atap yang
dikelilingi 360 patung berhala yang sekaligus sebagai tempat berziarah. [2]
Tradisi
haji misalnya. Sebelum kehadiran Islam, Ka’bah di kota Mekkah merupakan tempat
yang selalu ramai dikunjungi oleh masyarakat Arab setiap tahunnya untuk
melaksanakan ibadah haji dan mensucikan berhala-berhala mereka yang terdapat di
sekitar Ka’bah. Bahkan Ka’bah yang ada di Makkah ini bukan hanya diziarahi oleh
suku-suku Arab tetapi banyak dikunjungi oleh umat Yahudi dan Nasrani di luar
kota Makkah.
Begitu juga dalam hal berkabung karena
kematian sudah ada budaya dan tradisi lokal (Arab) dalam tata cara berkabung apabila
seseorang di tinggal mati oleh keluarganya. Wanita-wanita biasanya menangis
histeris, menyakiti badan mereka, merobek-robek pakaian mereka dan lain
sebagainya. Kemudian tradisi tersebut sebagian di tolerir oleh Islam, tetapi
lainnya secara bertahap dihilangkan. Boleh menangis tetapi dilarang menjerit
histeris sambil menyakiti badan atau merobek pakaian, boleh bersedih tetapi dilarang
berlarut terlalu lama.[3]
[1] Muhammad In’am Esha, Percikan Filsafat Sejarah dan Peradaban Islam,
(Malang: UIN-Maliki Press, 2011), hlm.59.
[2] Khoiro Ummatin, “Tiga Model Interaksi Dakwah Rasulullah Terhadap
Budaya Lokal”. Jurnal Dakwah, Vol.XV, No. 1 Tahun 2014, 191-192.
[3] Syaikhudin, “ Kearifan Dialogis Nabi atas Tradisi Kultural Arab”.
Esensia. Vol.XIII No. 2 Juli 2012, 192-193.
Komentar
Posting Komentar