Kebudayaan dan Peradaban
1. Kebudayaan
Kata “kebudayaan” dalam bahasa arab adalah al-Tsaqafah, akan tetapi di Indonesia masih banyak orang yang menyamakan dua kata “kebudayaan” (Arab, al-tsaqafah; Inggris, Culture) dan “Peradaban” (Arab, al-Hadharah ; Inggris, Civilization). Dalam ilmu antropologi sekarang, kedua istilah itu dibedakan.
Menurut Koentjaraningrat, kebudayaan paling tidak mempunyai tiga wujud,
a. Wujud ideal, yaitu kebudayaan sebagai suatu kompleks, ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan dan sebagainya,
b. Wujud kelakuan, yaitu wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat.
c. Wujud benda, yaitu wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya.[1]
2. Peradaban
Dalam istilah bahasa Indonesia kata peradaban merupakan kata bentukan. Kata itu berasal dari kata adab yang mendapat awalan per dan akhiran an , per-adab-an. Kata adab sendiri dapat dikatakan merupakan kata serapan dari istilah Arab, adab (ع د ب), yang memiliki beberapa arti yaitu :
Pertama, adab dimaknai sebagai sopan santun, tingkah laku yang berakhlak, bermoral. “Adab anda itu sangat baik” demikian misalnya ungkapan yang sering kita dengar.
Kedua, adab berarti budaya. Budaya berasal dari kata budi dan daya yang biasa di pahami sebagai olah rasionalitas manusia dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya. Budaya dalam hal ini dapat dipahami sebagai kreativitas manusia dengan akalnya untuk mengatasi segala persoalan hidupnya. Peradaban juga sering dipakai untuk menyebut suatu kebudayaan yang mempunyai sistem teknologi, seni bangunan, seni rupa, sistem kenegaraan, dan ilmu pengetahuan yang maju dan kompleks.[2]
Jadi kebudayaan mencakup juga peradaban, tetapi tidak sebaliknya, sebab peradaban dipakai untuk menyebut kebudayaan yang maju dalam bentuk ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. Dalam pengertian kebudayaan direflesikan kepada masyarakat yang terkebelakang, bodoh, sedangkan peradaban terefleksikan kepada masyarakat yang sudah maju.
[1] Syamruddin Nasution, Sejarah Peradaban Islam, (Pekanbaru: Yayasan Pusaka Riau, 2013), hlm.2.
[2] Muhammad In’am Esha, Percikan Filsafat Sejarah dan Peradaban Islam, (Malang: UIN-Maliki Press,2011), hlm.40-41.
Komentar
Posting Komentar