Renaissance (awal kelahiran filsafat modern)
A. Pengertian Renaissance
Ini istilah bahasa prancis. Dalam bahasa latin, re + nasci berarti lahir kembali (rebirth). Istilah ini biasanya di gunakan oleh sejarahwan untuk menunjuk berbagai periode kebangkitan intelektual, khususnya yang terjadi di eropa, dan lebih khusus lagi di italia sepanjang abad ke 15 dan ke 16. Istilah ini mula-mula di gunakan oleh sejarawan terkenal, Michelet, dan di kembangkan oleh J. Burckhardt (1860) untuk konsep sejarah yang menunjuk kepada periode yang bersifat individualism, kebangkitan kebudayaan antic, penemuan dunia dan manusia, sebagai periode yang di lawankan dengan periode abad pertengahan. Karya filsafat pada abad ini sering di sebut filsafat renaissance[1].
Renaissance ialah zaman peralihan ketika kebudayaan abad tengah mulai berubah menjadi suatu kebudayaan modern. Manusia pada zaman renaissance adalah mausia yang merindukan pemikiran yang bebas, seperti pada zaman yunani kuno. Pada zaman renaissance manusia di sebut sebagai animal rationale, Karena pada masa ini pemikiran manusia mulai bebas dan berkembang. Manusia ingin mencapai kemajuan atas hasil usaha sendiri, tidak di dasarkan atas campur tangan ilahhi. [2]
Selama abad ke 14 dan ke 15 di italia muncul keinginan yang kuat akan penemuan-penemuan baru dalam seni dan sastra. Mereka telah melihat pada periode pertama bahwa kemajuan itu telah terjadi. Ketika itu dunia barat telah biasa membagi tahapan sejarah pemikiran menjadi tiga periode yaitu ancient, medieval, dan modern. Pada zaman ancient atau zaman kuno itu mereka melihat kemajuan kemanusiaan telah terjadi. Kondisi seperti itulah yang hendak dihidupkan. Zaman renaissance rupanya dianggap juga sebagai suatu babak penting dalam sejarah peradaban. Voltaire, orang yang membagi babak sejarah menjadi empat, menganggap renaissance merupakan babak ketiga dari keempat babak itu. Pada abad ke 19, renaissance terutama dipandang sebagai masa yang penting dalam seni dan sastra. Menurut jules Michelet, sejarawan perancis terkenal, renaissance adalah penemuan manusia dan dunia. Dialah yang mula-mula menyatakan bahwa renaissance lebih dari sekadar kebangkitan peradaban yang merupakan permulaan kebangkitan dunia modern. Sejahrawan ini diikuti oleh Jakob Burckhard yang menginterpretasikan renaissance sebagai periode sejak Dante sampai Michelangole di italia yang merupakan kelahiran spirit modern dalam transformasi idea dan lembaga-lembaga.
Peralihan dari zaman pertengahan ke zaman modern di tandai oleh suatu era yang disebut dengan ‘renaissance’. Renaissance adalah suatu zaman yang sangat menaruh perhatian dalam bidang seni lukis, patung, arsitekstur, music, sastra, filsafat, ilmu pengetahuan dan teknologi. [3]
B. Latar Belakang Timbulnya Renaissance
Zaman renaissance ditandai sebagai era kebangkitan kembali pemikiran yang bebas dari dogma-dogma agama. Pada zaman ini berbagai gerakan bersatu untuk menentang pola pemikiran abad pertengahan yang dogmatis, sehingga melahirkan suatu perubahan revolusioner dalam pemikiran manusia dan membentuk suatu pola pemikiran baru dalam filsafat. Zaman renaissance terkenal dengan era kelahiran kembali kebebasan manusia dalam berpikir. Renaissance adalah zaman atau gerakan yang di dukung oleh cita-cita lahirnya kembali manusia yang bebas. Manusia bebas yang di maksutkan dan di dambakan adalah manusia bebas seperti yang ada dalam zaman yunani kuno. Pada zaman renaissance ini manusia barat mulai berfikir secara baru, dan secara berangsur-angsur melepaskan diri dari otoritas kekuasaan gereja yang selama ini telah ‘mengungkung’ kebebasan dalam mengemukakan kebenaran filsafat dan ilmu pengetahuan. Awal gerakan pembaharuan di bidang kerohanian, kemasyarakatan dan kegerejaan abad ke 14 di italia, jadi masih dalam zaman abad pertengahan. Gerakan pembaharuan ini dilakukan oleh oleh para orang humanis Italia. Demikianlah dapat dikatakan , bahwa humanism telah member sumbangannya kepada usaha renaissanceuntuk menjadikan kebudayaannya bersifat alamiah saja[4].
C. Karakteristik Renaissance dan filsafat Modern
Penemuan-penemuan ilmu pengetahuan modern sudah mulai dirintis pada zaman renaissance. Ilmu pengetahuan yang maju pada masa ini adalah bidang astronomi tokoh tokohnya yang terkenal: Copernicus, Kepler, Galileo galilei. Langkah-langkah yang dilakukan oleh Galileo dalam bidang ini menanamkan pengaruh yang kuat bagi perkembangan ilmu pengetahuan modern, karena menunjukkan beberapa hal seperti: pengamatan (observation), penyingkiran (elimination) segala hal yang tidak termasuk dalam peristiwa yang diamati, idealisasi, penyusunan teori secara spekulatif atas peristiwa tersebut, peramalan (prediction), pengukuran (measurement), dan percobaan (experiment) untuk menguji teori yang didasarkan pada ramalan matematik.
Zaman modern ditandai dengan berbagai penemuan dalam bidang ilmiah. Benua Eropa dipandang sebagai basis perkembangan ilmu pengetahuan. Perkembangan ilmu pengetahuan pada masa ini menurut Slamet Imam Santoso sebenarnya mempunyai tiga sumber, yaitu:
a. Hubungan antara kerajaan Islam diSemenanjung Iberia dengan negara-negara Perancis. Para Pendeta di Perancis banyak yang belajar di Spanyol, kemudian mereka inilah yang menyebarkan ilmu pengetahuan yang diperolehnya itu di lembaga-lembaga pendidikan Perancis.
b. Perang Salib (1100-1300) yang terulang sebanyak enam kali tidak hanya menjadi ajang peperangan fisik, namun juga menjadikan para tentara atau serdadu Eropa yang berasal dari berbagai negara itu menyadari kemajuan negara-negara Islam.sehingga mereka menyebarkan pengalaman mereka itu sekembalinya di negara-negara masing-masing.
c. Pada tahun 1453 Instambul jatuh ke tangan bangsa Turki, sehingga para pendeta atau sarjana mengungsi ke Italia atau negara-negara lain. Mereka ini menjadi pionir-pionir bagi perkembangan ilmu di Eropa[5].
Tokoh yang dikenal sebagai bapak filsafat Modern Rene Descartes. Ia telah mewariskan suatu metode berpikir yang menjadi landasan berpikir dalam ilmu pengetahuan modern. Langkah-langkah berpikir menurut Descartes adalah sebagai berikut:
a. Tidak menerima apa pun sebagai hal yang benar kecuali kalau diyakini sendiri bahwa itu memang benar.
b. Memilah-milah masalah menjadi bagian-bagian terkecil untuk mempermudah penyelesain.
c. Berpikir runtut dengan mulai dari hal yang sederhana sedikit demi sedikit untuk sampai ke hal yang paling rumit.
d. Perincian yang lengkap dan pemeriksaan menyeluruh diperlukan supaya tidak ada yang terlupakan[6].
[1] Ahmad tafsir, filsafat umum (Bandung:PT. Remaja Rossa karya ,2003), cetakan kedua, hal 124-125
[2] Rizal Musytansyir, Misnal Munir,filsafat umum (Yogyakarta:Pustaka Pelajar,2001), Cetakan 1, hal.132-133
[3] Rizal Musytansyir, Misnal Munir,filsafat umum(Yogyakarta:Pustaka Pelajar,2001), Cetakan 1, hal.69
[4] Hadiwijono, Harun. Sari sejarah filsafat barat. Kanisius, 1980.
[5] Rizal Musytansyir, Misnal Munir,filsafat umum(Yogyakarta:Pustaka Pelajar,2001), Cetakan 1, hal.134
[6] Rizal Musytansyir, Misnal Munir,filsafat umum(Yogyakarta:Pustaka Pelajar,2001), Cetakan 1, hal.135