Biografi singkat Ahmad bin Hanbal (Imam Ahmad) sebagai Periwayat Hadis


Nama lengkap Ahmad bin hanbal adalah Abu Abdillah bin Muhammad bin Hnabal bin Hilal bin Asad Al-Syaibani Al-Marwazi. Ia dilahirkan di Baghdad pada 20 Rabi’ul Awal 164 Hijriah (780M). Ia sebenarnya berasal dari Marwa. Ketika ibunya Shafiyah binti Maimunah binti Abdil Malik Al-Syaibani mengandung, ia pergi ke Baghdad kemudian melahirkan disana. Sementara itu, ayahnya wafat pada usia 30 tahun.

Ahmad bin Hanbal tinggal di Baghdad sejak kecil. Ia gemar menuntut ilmu dan melawat ke berbagai negeri untuk mencari hadis. Pada mulanya Ia belajar di majelis Al-Qadhi Abi Yusuf dan majelis Al-Syafi’i dalam bidang fiqh, hadis, dan nasab. Selanjutnya, ia pergi ke Yaman untuk mendengar hadis dari Abdurrazaq lalu ke Bashrah, Jazirah Arab, Mekkah, Madinah, dan Syam. Ahmad meriwayatkan hadis dari guru-gurunya, yatu Basyar bin Mufadhdhal, Ismail bin Ulaiyah, Sufyan bin Uyainah, Yahya bin Sa’id Al-Qaththan, Abu Dawud Al-Thayalisi, Al-Syafi’i, dan Mu’tamir bin Sulaiman. Sementara itu, ulama yang meriwayatkan hadis darinya, antara lain Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ibnu Mahdi, Al-Syafi’i, Abu Al-Walid, Abdurrazaq, Waki’, Yahya bin Ma’in, Ali bin Al-Madini, dan Al-Husain bin Manshur. Para periwayat tersebut adakalanya dari sebagian gurunya, teman sejawat, dan murid-muridnya.

Ahmad bin Hanbal memiliki banyak kelebihan, di antaranya sebagaimana yang dikemukakan ulama dan dikutip oleh Hasbi Ash-Shiddieqy berikut ini.

    1.      Ibnu Ma’in berkata, “Saya tidak pernah melihat orang yang lebih cakap dalam bidang bahasa Arab, kecuali Imam Ahmad.”

    2.      Abdurrazaq berujar, “Saya tidak melihat seorang yang lebih ahli dalam bidang fiqh dan lebih wara’ dari pada imam Ahmad.”

    3.      Al-Syafi’i berpendapat, “Saya keluar dari kota Baghdad dan saya tidak meninggalkan seorang yang lebih ahli dalam fiqh, lebih zahid, lebih wara’, dan lebih alim dari pada Imam Ahmad bin Hanbal.”

     4.      Qutaibah mengemukakan, “Ahmad adalah imam dunia ini.”

    5.      Abu Zar’ah berkomentar, “Ahmad hafal satu juta hadis yang kemudian ia diktekan.”

Ahmad adalah ulama besar dalam bidang hadis dan pendiri madzhab hanbaliyah. Salah satu karyanya yang terkenal adalah kitab musnad Imam Ahmad bin Hanbal yang berisikan sekitar 40.000 hadis dengan pengulangan sebanyak 10.000 hadis. Di dalamnya terkumpul hadis-hadis yang tidak di temukan dalam kitab lain. Ahmad dikaruniai dua anak yang kemudian terkenal dalam bidang hadis, yaitu Shahih dan Abdullah. Keduanya banyak menerima hadis dari ayahnya dan memasukkannya ke dalam kitab musnad. Abdullah yang menyusun kitab musnad, tetapi sayang belakangan pikiran Ahmad menjadi kacau dan ia wafat sebelum memeriksanya.

Kitab Musnad bukan rangkuman masalah hukum, melainkan kumpulan hadis berdasarkan rujukan sahabat tertentu dan diletakkan di bab tertentu. Penyusunnya berbeda-beda. Banyak diantara mereka yang memulai dengan Khulafaur Rasyidin, kemudian diikuti para sahabat yang dijanjikan masuk surga, kemudian sahabat yang pertama masuk Islam, dan seterunya. Buku Musnad yang lain disusun secara alfabet dan adakalanya disusun berdasarkan asal wilayah sahabat. Sementara itu, karya Ahmad bin Hanbal yang lain di antaranya Al-‘Ilal, Al-Tafsir, Al-Nasikh wa Al-Mansukh, Al-Zuhd, Al-Masa’il, Al-Fadha’il, Al-Fara’idh, Al-Manasik, Al-Imam, Fadha’il Al Shahabah, Kitab Al-Asyribah, Tha’ah Al-Rasul, dan Ar-Radd ‘ala Al-Jahmiyyah.

Pada masa Khalifah Al-Makmun, ia pernah diuji untuk mengakui kemakhlukan Al-Qur’an (disebut mihnah). Akan tetapi, Khalifah wafat sebelum sempat berdiskusi dengannya. Setelah itu, khalifah dipegang oleh Al-Mu’tashim. Imam Ahmad dipenjarakan selama 28 bulan karena tidak mau mengakui kemakhlukan Al-Qur’an. Di dalam penjara ia dianiaya dan baru pada tahun 220 Hijriah ia dibebaskan.

Pada masa kekhalifahan Al-Mutawakkil, ia mendapatkan keistimewaan, yaitu menjadi referensi dan konsultan khalifah. Segala urusan dan pekerjaan yang akan dilakukan Khalifah selalu dikonsultasikan terlebih dahulu. Ahmad bin Hanbal wafat pada bulan Rabi’ul awwal tahun 241 Hijriah (855 M) dalam usia 77 tahun.              


Source: buku Takhrij dan metode memahami Hadis karya Dr. H. Abdul Majid Khon, M.Ag, Jakarta: Amzah, 2014.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pandai Berkhayal

Epistemologi Tafsir Burhani

Biografi singkat Al-Syafi’i (Imam Syafi’i) sebagai Periwayat Hadis