Biografi, Pemikiran, dan Ide Pembaharuan Hasan Al-Bana

Beliau memulai pendidikannya di madrasah Al-Rasyd, dan disana ia bersahabat dengan syaikh Zahran. Pada usia 12 tahun, beliau pernah melihat langsung praktik dzikir tarekat al-Hasafiyah dan beliau mengkap kesan tentang kelapangan hati dan kesalehan orang tua serta kerendan hati orang muda. Sejak saat itu nama Syekh Hasafiyah, guru tarekat tersebut, melekat kuat dalam hatinya. Tarekat itu juga memberi pengaruh tersendiri bagi diri Hasan al-Banna. Bagaimana tidak, dalam memorinya beliau menguraikan bagaimana salah seorang guru pertamnya mengajarkan kepadanya cara menilai ikatan spiritual dan emosi yang dapat tumbuh antara guru dan murid.
Sebagai pembaru Islam, pembaharuan Hasan al-Banna tidak hanya disatu bidang (agama), tetapi juga multi bidang , adapun aspek-aspek cangkupannya adalah agama, politik, sosial, ekonomi, dan pendidikan.
Berikut akan dijelaskan pokok atau inti dari pemikiran pembaharuan Hasan al-Banna dalam berbagai aspek kehidupan;
1. Bidang AgamaSeperti diketahui, Hasab al Banna berasal dari keluarga yang sangat memegang teguh ajaran-ajaran Islam (al-Qur’an dan Hadits). Selain itu, beliau juga berbaur dengan pemikiran pembaharu Islam sebelumnya, seperti Jamaluddin al Afghani, Muhammad Abduh, dan rasyid Ridho. Maka, sedikit banyak pemikiran pembaharuannya dibidang agama terpengaruh oleh mereka paara pembaharu Islam sebelumnya.
Pandangan Hasan al Banna tentang Islam, yakni “Islam merupakan tata aturan yang lengkap, meliputi semua segi kehidupan. Islam adalah negara dan bangsa, atau pemerintah dan masyarakat. Islam juga mearupakan moral dan kekuasaan; rahmat dan keadilan; peradaban dan perundang-undangan; ilmu pengetahuan dan hukum”. Dari pandangan tentang Islam tersebut, sebenarnya kita sudah dapat mengetahui ide dasar pembaharuannya. Namun, terlepas dari pandangan tentang agama Islam. Ide-ide pembaharuan beliau juga menyentuh pada hal-hal yang lebih spesifik, yaitu tentang masalah fiqih, akidah, dan tasawuf.
2. Bidang Politik
Politik ialah hal yang terkait dengan persoalan-persoalan internal maupun eksternal umat. Politik memiliki dua sisi: internal dan eksternal. Sisi internal dalam politik ialah mengurus persoalan pemerintah, menjelaskan fungsi-fungsinya, merinci kewajiban dan hak-haknya, melakukan pengawasan terhadap para penguasa untuk kemudian dipatuhi jika mereka melakukan kebaikan, sisi eksternal politik ialah memelihara kemerdekaan dan kebebasan bangsa, mengantarkan tercapainya tujuan bangsa, dan membebaskan bangsa dari penindasan dan interversi pihak lain.
3. Bidang Sosial
Hasan al Banna juga mengupayakan pembaharuan dari aspek sosial. Yang menjadi tujuan dari pembaharuan ini sama seperti yang dilakukan oleh Jamaluddin al afghani, Muhammad Abduh, dan Rasyid Ridho, yaitu menuntut adanya keadilan sosial dan kesetaraan, khususnya kesetaraan gender dan emansipasi wanita. Pemikiran tentang kesetaraan ini mengacu pada ajaran Islam yang menyatakan bahwa Islam tidak membedakan manusia berdasarkan jenis kelamin, ras, suku, golongan atau lainnya. Melainkan karena ketakwaannya.
4. Bidang Ekonomi
Pemikiran atau ide pembaharuan Hasan al Banna dalam aspek ini didasarkan pada ketergantuan masyarakat mesir kepada ekonomi asing. Nah, untuk mengatasi ketergantungan tersebut, beliau berinisiatif mendirikan perusahaan secara mandiri yaitu pabrik pemintal benang dan perusahaan tenun. Selain itu, juga mencetak surat kabar sendiri. Upaya ini dilakukan agar masyarakat dapat terlepas dari ketergantuan kepada ekonomi asing.
5. Bidang Pendidikan
Pemikiran Hasan al Banna dibidang pendidikan merupakan yang paling populer, yang meliputi konsep pendidikan, tujuan pendidikan, dan metode pendidikan. Terkait dengan konsep pendidikan, Hasan al Banna membagi menjadi dua, yaitu pengembangan potensi, akal, dan hati yang dimiliki manusia, dan sebagai pewarisan kebudayaan Islam. Hasan al Banna berharap konsep pendidikan yang dirumuskan dapat melahirkan sosok individu yang memiliki kekuatan jasmani, akal dan hati guna mengabdi kepada Allah.
Komentar
Posting Komentar