Metode Tafsir Tahlili (Analitis)
Metode Tahlili (Analitis)
Secara harfiah, tahlili berarti terlepas atau terurai. Jadi tafsir tahlili ialah metode menafsirkan dengan mendeskripsikan atau menguraikan makna yang terkandung dalam ayat-ayat al-Qur’an dengan mengikuti urut-urutan surat dan ayat al-Qur’an yang diikuti oleh sedikit banyak analisis tentang kandungan ayat itu. Atau metode yang menafsirkan ayat demi ayat, surat demi surat, sesuai dengan tata urutan mushaf utsmani dengan pejelasan yang cukup terperinci. Model ini berupaya untuk menyajikan pembahasan seluruh segi dan isi dari sebuah atau sekelompok ayat. Didalamnya, mengurai kosakata (mufrodat), struktur (gramatika) bahasa, pembahasan linguistik, makna keseluruhan, munasabah (korelasi antar kata, ayat, atau surat), asbabun nuzul dan hadits (serta atsar), pennyimpulan prinsip-prinsip umum, serta pemanfaatan pengetahuan lainnya yang dapat membantu pemahaman nash al-Qur’an.
Metode tafsir at-Tahlili juga disebut metode Tajzi’i termasuk metode tafsir tertua usianya. Menurut Quraish shihab metode ini lahir jauh sebelum metode tafsir maudhu’i. Metode ini sudah dikenal sejak ahlii tafsir al-Farra(w.206 H/821 M) menerbitkan kitab tafsirnya itu atau sejak ibn Majah wafat (237 H/851 M), atau selambat-lambatnya sejak masa at- Thobari (w.310 H/922 M).
Kitab-kitab tafsir al-Qur’an yang pernah ditulis para mufassir masa-masa awal hampir, atau bahkan semuanya menggunakan metode at-tahlili. Metode itu bisa berbentuk tafsir bi al-ma’tsur seperti jami’ al-bayan ta’wil ayi al-Qur’an karya Ibnu Jarir at-Thabari atau tafsir bi ar-ra’yi seperti tafsir al-kabir atau mafatih al-ghaib karya Muhammad Fakhr al-Din al-Razi. Aliran tafsir bi al-isyarah atau al-Bathiniyah pun menampilkan tafsir dengan metode at-tahilili seperti kitab Gharaib al-Qur’an wa Raghain al-Furqan karya an-Naysaburi (w.728 H/1328 M).
Dilihat dari kecenderungan keilmuan dan aspek dominan pembahasannya, tafsir tahlili terbagi dalam beberapa macam pendekatan yag telah digunakan ulama dalam menafsirkan al-Qur’an, yaitu : pendekatan riwayat, pendekatan ra’yi, pendekatan sufistik, pendekatan fiqih, pendekatan falsafi dan kalam, pendekatan ilmiah, serta pendekatan adab wa al-ijtima’i.
Tafsir at-tahlili memiliki kelebihan yang sangat khas dibanding menggunakan metode lainnya. Antara lain, keluwasan dan keutuhanya dalam memahami al-Qur’an. Mengajak seseorang memahami al-Qur’an dari awal (Al-Fatihah) hingga akhir (An-Nas) atau ia diajak serta untuk memahami ayat dan surat dalam al-Qur’an secara utuh dan menyeluruh. Disamping memiliki kelebihan tafsir ini juga memiliki kekurangan, antara lain kajian metode tafsir at-tahlili kurang mendalam, tidak detail dan tidak tuntas dalam pembahasan dan penyelesaian topik-topik yang dibicarakan.
Metode ini memiliki nilai penting tersendiri, yaitu sebagai berikut :
a. Tepat untuk para pemula karena uraiannya singkat, padat, dan kosakata yang digunakan seperti kosakata al-Qur’an
b. Cocok bagi mereka yang memiliki banyak kesibukan
c. Cocok digunakan dalam ceramah dan sambutan, mengingat bahasanya yang ringkas dan sederhana
Secara harfiah, tahlili berarti terlepas atau terurai. Jadi tafsir tahlili ialah metode menafsirkan dengan mendeskripsikan atau menguraikan makna yang terkandung dalam ayat-ayat al-Qur’an dengan mengikuti urut-urutan surat dan ayat al-Qur’an yang diikuti oleh sedikit banyak analisis tentang kandungan ayat itu. Atau metode yang menafsirkan ayat demi ayat, surat demi surat, sesuai dengan tata urutan mushaf utsmani dengan pejelasan yang cukup terperinci. Model ini berupaya untuk menyajikan pembahasan seluruh segi dan isi dari sebuah atau sekelompok ayat. Didalamnya, mengurai kosakata (mufrodat), struktur (gramatika) bahasa, pembahasan linguistik, makna keseluruhan, munasabah (korelasi antar kata, ayat, atau surat), asbabun nuzul dan hadits (serta atsar), pennyimpulan prinsip-prinsip umum, serta pemanfaatan pengetahuan lainnya yang dapat membantu pemahaman nash al-Qur’an.
Metode tafsir at-Tahlili juga disebut metode Tajzi’i termasuk metode tafsir tertua usianya. Menurut Quraish shihab metode ini lahir jauh sebelum metode tafsir maudhu’i. Metode ini sudah dikenal sejak ahlii tafsir al-Farra(w.206 H/821 M) menerbitkan kitab tafsirnya itu atau sejak ibn Majah wafat (237 H/851 M), atau selambat-lambatnya sejak masa at- Thobari (w.310 H/922 M).
Kitab-kitab tafsir al-Qur’an yang pernah ditulis para mufassir masa-masa awal hampir, atau bahkan semuanya menggunakan metode at-tahlili. Metode itu bisa berbentuk tafsir bi al-ma’tsur seperti jami’ al-bayan ta’wil ayi al-Qur’an karya Ibnu Jarir at-Thabari atau tafsir bi ar-ra’yi seperti tafsir al-kabir atau mafatih al-ghaib karya Muhammad Fakhr al-Din al-Razi. Aliran tafsir bi al-isyarah atau al-Bathiniyah pun menampilkan tafsir dengan metode at-tahilili seperti kitab Gharaib al-Qur’an wa Raghain al-Furqan karya an-Naysaburi (w.728 H/1328 M).
Dilihat dari kecenderungan keilmuan dan aspek dominan pembahasannya, tafsir tahlili terbagi dalam beberapa macam pendekatan yag telah digunakan ulama dalam menafsirkan al-Qur’an, yaitu : pendekatan riwayat, pendekatan ra’yi, pendekatan sufistik, pendekatan fiqih, pendekatan falsafi dan kalam, pendekatan ilmiah, serta pendekatan adab wa al-ijtima’i.
Tafsir at-tahlili memiliki kelebihan yang sangat khas dibanding menggunakan metode lainnya. Antara lain, keluwasan dan keutuhanya dalam memahami al-Qur’an. Mengajak seseorang memahami al-Qur’an dari awal (Al-Fatihah) hingga akhir (An-Nas) atau ia diajak serta untuk memahami ayat dan surat dalam al-Qur’an secara utuh dan menyeluruh. Disamping memiliki kelebihan tafsir ini juga memiliki kekurangan, antara lain kajian metode tafsir at-tahlili kurang mendalam, tidak detail dan tidak tuntas dalam pembahasan dan penyelesaian topik-topik yang dibicarakan.
Metode ini memiliki nilai penting tersendiri, yaitu sebagai berikut :
a. Tepat untuk para pemula karena uraiannya singkat, padat, dan kosakata yang digunakan seperti kosakata al-Qur’an
b. Cocok bagi mereka yang memiliki banyak kesibukan
c. Cocok digunakan dalam ceramah dan sambutan, mengingat bahasanya yang ringkas dan sederhana
Komentar
Posting Komentar