Rezeki dalam konsep Ekonomi Islam
Berhadapan dengan dangan asumsi ekonomi itu yang secara umum diterima sebagai pradigma, Al-Qur’an justru sebaliknya, yaitu menciptakan pengertian adanya kelengkapan sumber pemuas hidup, karena rezeki Allah melimpah ruah, tidak hanya cukup bagi manusia tapi juga untuk makhluk hidup lainnya. Bahkan Al-Qur’an mengatakan dalam surah Hud ayat 6 yang artinya “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi, melainkan Allahlah yang memberikan rezekinya”. Tapi kenyataannya manusia di bumi masih banyak yang mengalami kelaparan. Di satu sisi John Kennet Galbraith mengatakan bahwa kelangkaan sudah berakhir, akan tetapi kelangkaan alat pemuas hidup masih terjadi dimana-mana. Oleh sebab itu memang dibutuhkannya perhitungan, baik terhadap kebutuhan manusia maupun hasil prodiksi alat-alat pemuas kebutuhan manusia. Al-Qur’an mengendaki manusia bersyukur. Tapi seperti yang dinyatakan surah Al-A’raf ayat 8, sedikit manusia yang bersyukur. 
Syukur dalam pengertian ekonomi mengandung arti, pertama, menyadari bahwa sumber rezeki itu adalah dari Allah dan dengan begitu menyadari hak dan akses setiap manusia terhadap sumber rezeki itu yang dapat dicapai melalui kerja. Kedua, menyadari bahwa rezeki Allah tidak terbatas dalam variasi, jumlah maupun mutnya. Dari kesadaran ini timbul bahwa manusia harus bisa memilih diantara rezeki yang halal dan yang paling baik untuk mencapainya manusia tidak perlu melakukan berbagai hal yang tidak wajar, atau dengan merusak dan merugikan orang lain. Ketiga, menyadari nikmat yang diberikan oleh Allah dan sekaligus menyadari bahwa itu sebenarnya tidak hanya untuk sekelompok kecil orang sehingga orang mampu bertindak membelanjakan hartanya secara bermanfaat bagi orang lain juga. Termasuk dalam pengetian ini adalah menghargai sumber-sumber ekonomi, mengingat bahwa semua rezeki itu diberikan oleh Allah dalam takaran-takaran tertentu.
Didalam ekonomi kita dituntut untuk bekerja dan berusaha yang merupakan suatu kewajiban yang dianjurkan agama untuk mencari fadhilah dan karunia allah, dan mencegah kemiskinan demi meninggkatkan taraf hidup dan martabat serta harga diri. Membudidayakan kebiasaan bekerja dan rindu menghasilakan kualitas akan menjadi salah satu ciri utama setiap pribadi muslim yang menjadikannya sebagai citra dirinya dan menaburkan semangat yang terus memberikan ilham dalam menentukan perjalanan hidupnya. Sehingga rezeki dengan usaha sangat erat hubungannya karena rezeki yang didapatkan melalui kerja keras dan usaha dengan tangan sendiri lebih baik dari pada bermalas-malasan /terbelenggu dengan hanya mengharapkan bantuan dari orang lain. dengan kita bekerja maka akan terjaga kehormatan dan martabatnya seseorang dan terhindar dari meminta- minta.

Syukur dalam pengertian ekonomi mengandung arti, pertama, menyadari bahwa sumber rezeki itu adalah dari Allah dan dengan begitu menyadari hak dan akses setiap manusia terhadap sumber rezeki itu yang dapat dicapai melalui kerja. Kedua, menyadari bahwa rezeki Allah tidak terbatas dalam variasi, jumlah maupun mutnya. Dari kesadaran ini timbul bahwa manusia harus bisa memilih diantara rezeki yang halal dan yang paling baik untuk mencapainya manusia tidak perlu melakukan berbagai hal yang tidak wajar, atau dengan merusak dan merugikan orang lain. Ketiga, menyadari nikmat yang diberikan oleh Allah dan sekaligus menyadari bahwa itu sebenarnya tidak hanya untuk sekelompok kecil orang sehingga orang mampu bertindak membelanjakan hartanya secara bermanfaat bagi orang lain juga. Termasuk dalam pengetian ini adalah menghargai sumber-sumber ekonomi, mengingat bahwa semua rezeki itu diberikan oleh Allah dalam takaran-takaran tertentu.
Didalam ekonomi kita dituntut untuk bekerja dan berusaha yang merupakan suatu kewajiban yang dianjurkan agama untuk mencari fadhilah dan karunia allah, dan mencegah kemiskinan demi meninggkatkan taraf hidup dan martabat serta harga diri. Membudidayakan kebiasaan bekerja dan rindu menghasilakan kualitas akan menjadi salah satu ciri utama setiap pribadi muslim yang menjadikannya sebagai citra dirinya dan menaburkan semangat yang terus memberikan ilham dalam menentukan perjalanan hidupnya. Sehingga rezeki dengan usaha sangat erat hubungannya karena rezeki yang didapatkan melalui kerja keras dan usaha dengan tangan sendiri lebih baik dari pada bermalas-malasan /terbelenggu dengan hanya mengharapkan bantuan dari orang lain. dengan kita bekerja maka akan terjaga kehormatan dan martabatnya seseorang dan terhindar dari meminta- minta.
Komentar
Posting Komentar