TAFSIR PADA MASA NABI MUHAMMAD SAW
TAFSIR PADA MASA NABI MUHAMMAD SAW

Pada periode ini tafsir belum tertulis dan secara umum periwayatan ketika itu tersebar secara lisan. Sebagai rasul, Nabi Muhammad berfungsi sebagai Mubayyin (pemberi penjelasan). Penjelasan terhadap apa yang telah diturunkan Allah melalui wahyu yang disampaikan Jibril kepadanya. Beliau menjelaskan kepada para sahabatnya tentang arti dan kandungan al-Qur’an, khususnya menyangkut ayat-ayat yang tidak difahami atau samar artinya.
As-Sabuni menjelaskan, para sahabat pada dasarnya telah memahami al-Qur’an baik dari mufradat maupun tarkibnya. Ini didasari atas pengetahuan mereka terhadap bahasa Arab sebagai bahasa inti al-Qur’an. Akan tetapi terkadang mereka membutuhkan penjelasan apabila mendapati ayat-ayat yang mereka tidak memahaminya. Penafsiran para sahabat terhadap al-Qur’an hanya merujuk pada inti kandungan al-Qur’an. Mereka adalah orang yang mengetahui secara langsung bagaimana al-Qur’an diturunkan, sebab apa al-Qur’an, serta peristiwa apa yang melatarbelakangi al-Qur’an diturunkan.
Akibat dari pemahaman para sahabat mengenai Al-Qur’an berbeda-beda, timbul perbedaan pendapat dikalangan ulama berkaitan dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang ditafsirkan oleh Rosulullah. Perbedaan tersebut dikelompokkan menjadi dua.
1. Rosulullah menjelaskan tentang makna Alqur’an sebagaimana beliau menjelaskan kosa kata Al-Qur’an. Demikian pendapat Ibnu Taimiyah dalam muqoddimah berdasarkan Surat An-Nahl (16) ayat 44. Alasan pokok yang menjadi argumen mereka adalah sebagai berikut :
a. Surat An-Nahl (16) ayat 44. Penjelasan harus mencakup kosakata dan makna.
b. Hadis Abu Abdurrahman As-Sulami yang menjelaskan bahwa ketika mereka belajar sepuluh ayat, mereka harus mengamalkannya terlebih dahulu.
c. Muqoddimah karya Ibnu Taimiyah. Maksud dari setiap kalam adalah mengetahui makna-maknanya, bukan sekedar tahu kosakata.
2. Rosulullah hanya sedikit menjelaskan makna Al-qur’an kepada para sahabat. Alasan pokok yang menjadi argumen mereka adalah sebagai berikut:
a. Riwayat dari aisyah yang menyatakan bahwa nabi hanya menjelaskan dan menafsirkan beberapa ayat yang di ajarkan Jibril.
b. Allah memerintahkan manusia untuk berfikir, mengerti maksud kalam-Nya, dan melakukan istimbat, yaitu berupaya menemukan penafsiran baru serta makna yang lebih sesuai dengan kondisi masanya.
c. Apabila nabi menjelaskan seluruh makna Al-qur’an, do’a beliau kepada ibnu abbas tidak ada gunanya karena manusia akan memiliki batasan pengetahuan yang sama.
Melihat perbedaan pendapat dua kubu tersebut dapat disimpulkan Rasullulah tidak menafsirkan seluruh makna ayat al-qur’an. Kesimpulan tersebut berdasarkan beberapa alasan berikut:
1. Ada sebagian ayat yang pemahamanya didasarkan pada pengetahuan tentang kebahasaan. Hal ini tidak membutuhkan penjelasan dari Rasulullah. Contohnya ketika ibnu abbas menafsirkan kata ya’mahuna (Q.S Al-Baqarah:15) ia berkata, “Yataraddaduna (mereka terombang-ambing)”.
2. Sebagian ayat ada yang mudah untuk dipahami sehingga tidak membutuhkan penjelasan Nabi. Misalnya, ayat berikut ini
حُرّمِتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَتُكُمْ......
Diharamkan atas kamu (menikahi) ibu-ibumu… (QS.An-Nisa’ (4) : 23 )
3. Sebagian ayat ada yang penjelasannya hanya diketahui oleh Allah, seperti terjadinya hari kiamat Oleh sebab itu, setiap Nabi ditanya kapan terjadi kiamat, beliau hanya menjelaskan tanda-tanda datangnya. Dalam surat Luqman (31) ayat 34 dikemukakan bahwa hanya Allah yang mengetahui tentang hari kiamat.
Berikut ini contoh-contoh tafsir yang dilakukan oleh nabi Muhammad SAW
1. Menjelaskan hal yang sulit. Misalnya, riwayat dari Ibnu Abbas yang berkata, “Ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah, ‘Bagaimana pendapat engkau tentang firman Allah kama ahzalna ‘ala al-muqtasimin (sebagaimana [kami telah memberi peringatan], Kami telah menurunkan [azab] kepada orang yang memilah-milah [Kitab Allah]). (QS. AL-Hijr (15) : 90)? Nabi menjawab, ‘(Mereka adalah) kaum Yahudi dan Nasrani.’ Laki-laki itu bertanya lagi, ‘Alladzi ja’alu al-qur’an ‘idhin ([yaitu] orang-orang yang telah menjadikan Alquran itu terbagi-bagi). (QS. Al-Hijr (15) : (91). Apa ‘idhin itu?’ Nabi menjawab, ‘Orang-orang yang beriman dengan sebagian dan kufur dengan sebagian lainnya.’’ Contoh lainnya adalah penjelasan Nabi tentang benang putih dan benang hitam sebagaimana firman Allah dalam surah Al-Baqarah (2) ayat 187. Nabi menjelaskan bahwa maksudnya adalah terang siang dan gelapnya malam.
2. Memberikan batasan
3. Memberikan suri tauladan
Kepandaian menulis dan membaca itu amat dihargai dan digembirakan oleh Nabi. Beliau berkata : “… Di akhirat nanti tinta ulama-ulama itu akan ditimbang dengan darah syuhada ( orang-orang yang mati syaid )”.
Dengan demikian terdapatlah di masa Nabi tiga unsur yang tolong menolong memelihara Al-Qur’an yang telah diturunkan itu.
1. Hafalan dari mereka yang hafal Al-Qur’an
2. Naskah-naskah yang ditulis untuk Nabi
3. Naskah-naskah yang ditulis oleh mereka yang pandai menulis dan membaca untuk mereka masing-masing.
As-Sabuni menjelaskan, para sahabat pada dasarnya telah memahami al-Qur’an baik dari mufradat maupun tarkibnya. Ini didasari atas pengetahuan mereka terhadap bahasa Arab sebagai bahasa inti al-Qur’an. Akan tetapi terkadang mereka membutuhkan penjelasan apabila mendapati ayat-ayat yang mereka tidak memahaminya. Penafsiran para sahabat terhadap al-Qur’an hanya merujuk pada inti kandungan al-Qur’an. Mereka adalah orang yang mengetahui secara langsung bagaimana al-Qur’an diturunkan, sebab apa al-Qur’an, serta peristiwa apa yang melatarbelakangi al-Qur’an diturunkan.
Akibat dari pemahaman para sahabat mengenai Al-Qur’an berbeda-beda, timbul perbedaan pendapat dikalangan ulama berkaitan dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang ditafsirkan oleh Rosulullah. Perbedaan tersebut dikelompokkan menjadi dua.
1. Rosulullah menjelaskan tentang makna Alqur’an sebagaimana beliau menjelaskan kosa kata Al-Qur’an. Demikian pendapat Ibnu Taimiyah dalam muqoddimah berdasarkan Surat An-Nahl (16) ayat 44. Alasan pokok yang menjadi argumen mereka adalah sebagai berikut :
a. Surat An-Nahl (16) ayat 44. Penjelasan harus mencakup kosakata dan makna.
b. Hadis Abu Abdurrahman As-Sulami yang menjelaskan bahwa ketika mereka belajar sepuluh ayat, mereka harus mengamalkannya terlebih dahulu.
c. Muqoddimah karya Ibnu Taimiyah. Maksud dari setiap kalam adalah mengetahui makna-maknanya, bukan sekedar tahu kosakata.
2. Rosulullah hanya sedikit menjelaskan makna Al-qur’an kepada para sahabat. Alasan pokok yang menjadi argumen mereka adalah sebagai berikut:
a. Riwayat dari aisyah yang menyatakan bahwa nabi hanya menjelaskan dan menafsirkan beberapa ayat yang di ajarkan Jibril.
b. Allah memerintahkan manusia untuk berfikir, mengerti maksud kalam-Nya, dan melakukan istimbat, yaitu berupaya menemukan penafsiran baru serta makna yang lebih sesuai dengan kondisi masanya.
c. Apabila nabi menjelaskan seluruh makna Al-qur’an, do’a beliau kepada ibnu abbas tidak ada gunanya karena manusia akan memiliki batasan pengetahuan yang sama.
Melihat perbedaan pendapat dua kubu tersebut dapat disimpulkan Rasullulah tidak menafsirkan seluruh makna ayat al-qur’an. Kesimpulan tersebut berdasarkan beberapa alasan berikut:
1. Ada sebagian ayat yang pemahamanya didasarkan pada pengetahuan tentang kebahasaan. Hal ini tidak membutuhkan penjelasan dari Rasulullah. Contohnya ketika ibnu abbas menafsirkan kata ya’mahuna (Q.S Al-Baqarah:15) ia berkata, “Yataraddaduna (mereka terombang-ambing)”.
2. Sebagian ayat ada yang mudah untuk dipahami sehingga tidak membutuhkan penjelasan Nabi. Misalnya, ayat berikut ini
حُرّمِتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَتُكُمْ......
Diharamkan atas kamu (menikahi) ibu-ibumu… (QS.An-Nisa’ (4) : 23 )
3. Sebagian ayat ada yang penjelasannya hanya diketahui oleh Allah, seperti terjadinya hari kiamat Oleh sebab itu, setiap Nabi ditanya kapan terjadi kiamat, beliau hanya menjelaskan tanda-tanda datangnya. Dalam surat Luqman (31) ayat 34 dikemukakan bahwa hanya Allah yang mengetahui tentang hari kiamat.
Berikut ini contoh-contoh tafsir yang dilakukan oleh nabi Muhammad SAW
1. Menjelaskan hal yang sulit. Misalnya, riwayat dari Ibnu Abbas yang berkata, “Ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah, ‘Bagaimana pendapat engkau tentang firman Allah kama ahzalna ‘ala al-muqtasimin (sebagaimana [kami telah memberi peringatan], Kami telah menurunkan [azab] kepada orang yang memilah-milah [Kitab Allah]). (QS. AL-Hijr (15) : 90)? Nabi menjawab, ‘(Mereka adalah) kaum Yahudi dan Nasrani.’ Laki-laki itu bertanya lagi, ‘Alladzi ja’alu al-qur’an ‘idhin ([yaitu] orang-orang yang telah menjadikan Alquran itu terbagi-bagi). (QS. Al-Hijr (15) : (91). Apa ‘idhin itu?’ Nabi menjawab, ‘Orang-orang yang beriman dengan sebagian dan kufur dengan sebagian lainnya.’’ Contoh lainnya adalah penjelasan Nabi tentang benang putih dan benang hitam sebagaimana firman Allah dalam surah Al-Baqarah (2) ayat 187. Nabi menjelaskan bahwa maksudnya adalah terang siang dan gelapnya malam.
2. Memberikan batasan
3. Memberikan suri tauladan
Kepandaian menulis dan membaca itu amat dihargai dan digembirakan oleh Nabi. Beliau berkata : “… Di akhirat nanti tinta ulama-ulama itu akan ditimbang dengan darah syuhada ( orang-orang yang mati syaid )”.
Dengan demikian terdapatlah di masa Nabi tiga unsur yang tolong menolong memelihara Al-Qur’an yang telah diturunkan itu.
1. Hafalan dari mereka yang hafal Al-Qur’an
2. Naskah-naskah yang ditulis untuk Nabi
3. Naskah-naskah yang ditulis oleh mereka yang pandai menulis dan membaca untuk mereka masing-masing.
Komentar
Posting Komentar