TAFSIR PADA MASA SAHABAT

 TAFSIR PADA MASA SAHABAT


1.    Keberadaan sahabat berkaitan dengan Pengetahuan
Setelah Rosulullah tiada, para sahabat berijtihad untuk menemukan makna makna yang sulit. Disamping itu, mereka juga mengetahui sebab turunnya ayat sehingga mereka terbantu untuk memahami isi Alqur’an.
Berkaitan dengan peristiwa turunnya ayat, tidak semua sahabat menyaksikannya. Oleh sebab itu, pemahaman mereka berbeda-beda yang kemudian menimbulkan tingkatan yang berbeda-beda pula dalam memahami makna kosakata Alqur’an. Misalnya, makna kata Takhawwuf  ( takut ) dalam Surah An-Nahl (16) ayat 47. Sementara itu, seseorang dari suku Hudzil menjelaskan, “Takhawwuf dalam bahasa kami adalah berangsur-angsur (sampai binasa).”
Pendapat Ali tentang para mufasir masa sahabat :
a.    Para sahabat memiliki tingkat pengetahuan yang berbeda-beda dan banyak makna Alqur’an yang samar bagi mereka.
b.    Kebanyakan mereka merasa cukup dengan makna global
c.    Diantara mereka ada yang memahami dengan pemahaman yang kurang tepat, seperti pemahaman Adi bin Hatim tentang benang hitam dan putih.
2.    Perbedaan pemahaman para sahabat mengenai Alqur’an
Factor yang menyebabkan perbedaan tersebut :
a.    Perbedaan tingkat pemahaman dan kemampuan dalam menguasai bahasa.
b.    Perbedaan intensitas dalam menyertai Nabi Muhammad SWT.
c.    Perbedaan pemahaman tentag asbab an-nuzul yang membantu dalam memahami makna ayat.
d.    Perbedaan pengetahuan mengenai syariat
e.    Perbedaan tingkat kecerdasan karena mereka seperti manusia lain pada umumnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pandai Berkhayal

Epistemologi Tafsir Burhani

Biografi singkat Al-Syafi’i (Imam Syafi’i) sebagai Periwayat Hadis