Epistemologi Tafsir Irfani
A. Pengertian Epistemologi Tafsir Irfani
Irfani berasal dari kata ‘Irfan yang dalam bahasa Arab merupakan bentuk masdar dari kata ‘arafa yang semakna dengan kata ma’rifat, yang berarti pengetahuan yang diperoleh secara langsung lewat pengalaman. Kata ‘Irfan muncul dari kalangan kaum sufi muslim yang menunjuk pada suatu bentuk pengetahuan yang tinggi, terhunjam dalam hati dalam bentuk kasyf atau ilham.
Pengetahuan irfani tidak didasarkan pada teks seperti bayani, dan juga tidak diperoleh dari rasio seperti burhani, tetapi didasarkan pada kasyf atau intuisi, yakni tersingkapnya rahasia-rahasia realitas oleh Tuhan. Karena itu, pengetahuan Irfani tidak berlandaskan proses analisa teks, tetapi dengan pengolahan ruhani, dimana dengan kesucian hati, diharapkan Tuhan akan melimpahkan pengetahuan langsung kepadanya. Masuk ke dalam pikiran, dan dikonsep kemudian dikemukakan kepada orang lain secara logis.
Tafsir menurut etimologi berarti menjelaskan atau menerangkan makna yang abstrak. Sedang menurut terminologi adalah penjelasan terhadap Kalamullah atau menjelaskan lafadz-lafadz al-Qur’an dan pemahamannya. Imam as-Suyuti mengatakan dalam kitab Al-Itqan fi ‘Ulum Al- Qur’an bahwa Tafsir adalah menjelaskan tentang nuzul Al-Qur’an, hukum-hukum yang ada di dalam Al-Qur’an.
Jadi Epistemologi Tafsir Irfani merupakan pengetahuan tentang metode penafsiran yang menggunakan intuisi dalam menafsirkan suatu ayat Al Qur'an serta penafsirannya didasarkan kepada isyarat-isyarat yang tersirat (isyarah khafiyah) yang ditunjukkan oleh Allah kepada para sufi dimana penafsirannya tersebut masih bisa dikompromikan dengan makna dzahirnya.
B. Objek Kajian Epistemologi Tafsir Irfani
Jika sumber pokok (origin) ilmu pengetahuan dalam epistemologi bayani adalah teks/wahyu, dalam epistemologi irfan ini sumber pokoknya adalah experience (pengalaman). Pengalaman hidup yang otentik, yang sesungguhnya, yang merupakan pelajaran yang ternilai harganya. Ketika manusia menghadapi alam semesta yang cukup mengagumkan dalam lubuk hatinya yang terdalam telah dapat mengetahui. Orang tidak perlu menunggu turunnya “teks”. Pengalaman bathin yang amat mendalam, otentik, fitri, hanafiah samhah, dan hampir-hampir tidak terkatakan oleh logika dan tidak terungkapkan oleh bahasa. Inilah yang disebut direct experience, ilmu khuduri dalam tradisi isyroqiyah atau preverbal, prereflective consciousness atau prelogical knowledge menurut tradisi existensialis Barat. Semua pengalaman otentik tersebut dapat dirasakan secara langsung tanpa harus menjalankannya terlebih dulu lewat pengungkapan “bahasa” atau “logika”.
Sesuai dengan sasaran bidik irfani yang esoterik, isu sentral irfani adalah zahir dan batin, bukan sebagai konsep yang berlawanan tetapi sebagai pasangan. Menurut Muhasibi, al-Ghazali, Ibn Arabi, juga para sufi yang lain, teks keagamaan (Alquran dan hadis) tidak hanya mengandung apa yang tersurat (zahir) tetapi juga apa yang tersirat (batin). Zahir teks adalah bacaannya, sedangkan batinnya adalah takwilnya. Jika dianalogikan dengan bayani, konsep zahir-batin tidak berbeda dengan lafaz dan makna. Bedanya, dalam epistemologi bayani, seseorang berangkat dari lafaz menuju makna, sedangkan dalam irfani, seseorang justru berangkat dari makna menuju lafaz, dari batin menuju zahir, atau dalam bahasa al-Ghazali, makna sebagai ashl, sedangkan lafaz mengikuti makna (sebagai furu’).
Bila dalam epistemologi bayani terdapat konsep lafadz dan makna dalam irfani terdapat dunia (world view) dan cara memperlakukannya. Pola fikir yang dipakai dikalangan irfaniyah adalah kerangka dari bathin menuju yang dhohir dari makna menuju lafadz bathin bagi mereka merupakan sumber pengetahuan karena bathin adalah hakikat, sementara dhahir adalah Al Qur’an dan Al Hadits sebagai pelindung dan penyinar. Irfaniyun berusaha menjadikan dhahir nash sebagai bathin.
Al Ghazali menjelaskan bahwa makna atau arti yang dimiliki oleh Al Qur’an adalah isinya, bukan covernya. Agar hakikat dapat disingkap. Makna harus dijadikan asal, sedang lafadz mengakuinya. Demikian halnya Al Muhasibi sebagaimana dikutip Al Jabiri menjelaskan bahwa yang dhahir adalah bacaannya (tilawah dan bathin adalah ta’wilnya). Ta’wil disini diartikan sebagai transformasi ungkapan dhahir ke bathin dengan berpedoman pada isyarah (petunjuk bathin). Apabila dalam ta’wil bayani memerlukan satuan bayan seperti wajah syibh (illat) ataupun adanya pertalian lafadz dan makna (qorinah lafadziyah al maknawiyah), maka ta’wil irfani tidak memerlukan persyaratan dan perantaraan. Takwil irfani tidak berpedoman pada dhahir lafadz, tetapi justru mengalihkannya pada wilayah pengetahuan yang menurut mereka, disebut dengan hakikat melalui isyarat. Dalam pola fikir seperti itu, pemahaman dihasilkan melalui al-iyan atau irfan dan karenanya bersifat langsung.
C. Urgensi Pembelajaran
Pengetahuan irfan berbeda dengan bayani yang didasarkan atas teks, tetapi pada kasyf, tersingkapnya rahasia-rahasia realitas oleh Tuhan. Karena itu, pengetahuan irfani tidak diperoleh berdasarkan analisa teks tetapi dengan olah ruhani, dimana dengan kesucian hati, diharapkan Tuhan akan melimpahkan pengetahuan langsung kepadanya. Masuk dalam pikiran, yang kemudian dikonsep dan dikemukakan kepada orang lain secara logis. Dengan demikian pengetahuan irfani setidaknya diperoleh melalui tiga tahapan, (1) persiapan, (2) penerimaan, (3) pengungkapan, dengan lisan atau tulisan.
Tahap pertama, persiapan. Agar bisa menerima pengetahuan (kasyf), seseorang harus menjalani tangga-tangga kehidupan spiritual.
Kedua, tahap penerimaan. Jika telah mencapai tingkatan tertentu dalam sufisme, seseorang akan mendapatkan limpahan pengetahuan langsung dari Tuhan secara illuminatif. Pada tahap ini seseorang akan mendapatkan realitas kesadaran diri yang demikian mutlak (kasyf).
Ketiga, pengungkapan. Yakni pengalaman mistik diinterpretasikan dan diungkapkan kepada orang lain lewat ucapan atau tulisan. Namun karena tatanan konsepsi dan representasi bukan masuk dalam pengetahuan irfani tetapi berkaitan dengan kesatuan simpleks kehadiran Tuhan dalam diri dan kehadiran diri dalam Tuhan sehingga tidak bisa dikomunikasikan, maka tidak semua pengalaman itu bisa diungkapkan.
Irfani berasal dari kata ‘Irfan yang dalam bahasa Arab merupakan bentuk masdar dari kata ‘arafa yang semakna dengan kata ma’rifat, yang berarti pengetahuan yang diperoleh secara langsung lewat pengalaman. Kata ‘Irfan muncul dari kalangan kaum sufi muslim yang menunjuk pada suatu bentuk pengetahuan yang tinggi, terhunjam dalam hati dalam bentuk kasyf atau ilham.
Pengetahuan irfani tidak didasarkan pada teks seperti bayani, dan juga tidak diperoleh dari rasio seperti burhani, tetapi didasarkan pada kasyf atau intuisi, yakni tersingkapnya rahasia-rahasia realitas oleh Tuhan. Karena itu, pengetahuan Irfani tidak berlandaskan proses analisa teks, tetapi dengan pengolahan ruhani, dimana dengan kesucian hati, diharapkan Tuhan akan melimpahkan pengetahuan langsung kepadanya. Masuk ke dalam pikiran, dan dikonsep kemudian dikemukakan kepada orang lain secara logis.

Tafsir menurut etimologi berarti menjelaskan atau menerangkan makna yang abstrak. Sedang menurut terminologi adalah penjelasan terhadap Kalamullah atau menjelaskan lafadz-lafadz al-Qur’an dan pemahamannya. Imam as-Suyuti mengatakan dalam kitab Al-Itqan fi ‘Ulum Al- Qur’an bahwa Tafsir adalah menjelaskan tentang nuzul Al-Qur’an, hukum-hukum yang ada di dalam Al-Qur’an.
Jadi Epistemologi Tafsir Irfani merupakan pengetahuan tentang metode penafsiran yang menggunakan intuisi dalam menafsirkan suatu ayat Al Qur'an serta penafsirannya didasarkan kepada isyarat-isyarat yang tersirat (isyarah khafiyah) yang ditunjukkan oleh Allah kepada para sufi dimana penafsirannya tersebut masih bisa dikompromikan dengan makna dzahirnya.
B. Objek Kajian Epistemologi Tafsir Irfani
Jika sumber pokok (origin) ilmu pengetahuan dalam epistemologi bayani adalah teks/wahyu, dalam epistemologi irfan ini sumber pokoknya adalah experience (pengalaman). Pengalaman hidup yang otentik, yang sesungguhnya, yang merupakan pelajaran yang ternilai harganya. Ketika manusia menghadapi alam semesta yang cukup mengagumkan dalam lubuk hatinya yang terdalam telah dapat mengetahui. Orang tidak perlu menunggu turunnya “teks”. Pengalaman bathin yang amat mendalam, otentik, fitri, hanafiah samhah, dan hampir-hampir tidak terkatakan oleh logika dan tidak terungkapkan oleh bahasa. Inilah yang disebut direct experience, ilmu khuduri dalam tradisi isyroqiyah atau preverbal, prereflective consciousness atau prelogical knowledge menurut tradisi existensialis Barat. Semua pengalaman otentik tersebut dapat dirasakan secara langsung tanpa harus menjalankannya terlebih dulu lewat pengungkapan “bahasa” atau “logika”.
Sesuai dengan sasaran bidik irfani yang esoterik, isu sentral irfani adalah zahir dan batin, bukan sebagai konsep yang berlawanan tetapi sebagai pasangan. Menurut Muhasibi, al-Ghazali, Ibn Arabi, juga para sufi yang lain, teks keagamaan (Alquran dan hadis) tidak hanya mengandung apa yang tersurat (zahir) tetapi juga apa yang tersirat (batin). Zahir teks adalah bacaannya, sedangkan batinnya adalah takwilnya. Jika dianalogikan dengan bayani, konsep zahir-batin tidak berbeda dengan lafaz dan makna. Bedanya, dalam epistemologi bayani, seseorang berangkat dari lafaz menuju makna, sedangkan dalam irfani, seseorang justru berangkat dari makna menuju lafaz, dari batin menuju zahir, atau dalam bahasa al-Ghazali, makna sebagai ashl, sedangkan lafaz mengikuti makna (sebagai furu’).
Bila dalam epistemologi bayani terdapat konsep lafadz dan makna dalam irfani terdapat dunia (world view) dan cara memperlakukannya. Pola fikir yang dipakai dikalangan irfaniyah adalah kerangka dari bathin menuju yang dhohir dari makna menuju lafadz bathin bagi mereka merupakan sumber pengetahuan karena bathin adalah hakikat, sementara dhahir adalah Al Qur’an dan Al Hadits sebagai pelindung dan penyinar. Irfaniyun berusaha menjadikan dhahir nash sebagai bathin.
Al Ghazali menjelaskan bahwa makna atau arti yang dimiliki oleh Al Qur’an adalah isinya, bukan covernya. Agar hakikat dapat disingkap. Makna harus dijadikan asal, sedang lafadz mengakuinya. Demikian halnya Al Muhasibi sebagaimana dikutip Al Jabiri menjelaskan bahwa yang dhahir adalah bacaannya (tilawah dan bathin adalah ta’wilnya). Ta’wil disini diartikan sebagai transformasi ungkapan dhahir ke bathin dengan berpedoman pada isyarah (petunjuk bathin). Apabila dalam ta’wil bayani memerlukan satuan bayan seperti wajah syibh (illat) ataupun adanya pertalian lafadz dan makna (qorinah lafadziyah al maknawiyah), maka ta’wil irfani tidak memerlukan persyaratan dan perantaraan. Takwil irfani tidak berpedoman pada dhahir lafadz, tetapi justru mengalihkannya pada wilayah pengetahuan yang menurut mereka, disebut dengan hakikat melalui isyarat. Dalam pola fikir seperti itu, pemahaman dihasilkan melalui al-iyan atau irfan dan karenanya bersifat langsung.
C. Urgensi Pembelajaran
Pengetahuan irfan berbeda dengan bayani yang didasarkan atas teks, tetapi pada kasyf, tersingkapnya rahasia-rahasia realitas oleh Tuhan. Karena itu, pengetahuan irfani tidak diperoleh berdasarkan analisa teks tetapi dengan olah ruhani, dimana dengan kesucian hati, diharapkan Tuhan akan melimpahkan pengetahuan langsung kepadanya. Masuk dalam pikiran, yang kemudian dikonsep dan dikemukakan kepada orang lain secara logis. Dengan demikian pengetahuan irfani setidaknya diperoleh melalui tiga tahapan, (1) persiapan, (2) penerimaan, (3) pengungkapan, dengan lisan atau tulisan.
Tahap pertama, persiapan. Agar bisa menerima pengetahuan (kasyf), seseorang harus menjalani tangga-tangga kehidupan spiritual.
Kedua, tahap penerimaan. Jika telah mencapai tingkatan tertentu dalam sufisme, seseorang akan mendapatkan limpahan pengetahuan langsung dari Tuhan secara illuminatif. Pada tahap ini seseorang akan mendapatkan realitas kesadaran diri yang demikian mutlak (kasyf).
Ketiga, pengungkapan. Yakni pengalaman mistik diinterpretasikan dan diungkapkan kepada orang lain lewat ucapan atau tulisan. Namun karena tatanan konsepsi dan representasi bukan masuk dalam pengetahuan irfani tetapi berkaitan dengan kesatuan simpleks kehadiran Tuhan dalam diri dan kehadiran diri dalam Tuhan sehingga tidak bisa dikomunikasikan, maka tidak semua pengalaman itu bisa diungkapkan.
Komentar
Posting Komentar