Histori, tokoh, kitab, dan penafsiran epistemologi tafsir irfani

 A.    Tokoh, Kitab, dan Penafsirannya
1.    Tafsir Ghara'ib al-Qur'an Wa Ragha'ib al-Furqan karangan Nizam al-Din al-Naysaburi,
    Tafsir ini pada awalnya menjelaskan makna yang zhahir dari ayat. Setelah itu, barulah dia mengatakan, menurut pendapat ulama isyarat atau ulama takwil, ayat ini mengatakan demikian. Umpamanya: menyembelih nafsu hewaniyah itulah yang dinamakan al-Jihadul Akbar.
Selain itu, setelah menafsirkan Masajid Allah an-Naisabury berkata: Dimaksudkan Masajid Allah yang didalamnya disebut nama Allah, ialah nafsu, hati, ruh dan rahasia, dan rahasia dari rahasia. Semuanya itu dapat dikatakan masjid. Masjid nafsu ialah taat dan ibadah. Masjid hati ialah tauhid dan makrifat. Masjid ruh ialah rindu dan cinta. Masjid rahasia ialah muraqabah dan sujud. Serta masjid sirrusir ialah menghadapi wujud dan meningalkan maujud.

                                      
2.    Tafsir at-Tastary, karangan Abu Muhammad Sahal bin Abdullah at-Tastary (w. 383),
Contoh penafsiran ayat: yakni dalam kalimat bismillah, ba' yang dimaksudkan adalah baha ullah, yang dimaksudkan dengan sin ialah samaullah, dan yang dimaksud dengan mim ialah majdullah. Sedangkan lafal Allah adalah isim a'zham yang meliputi segala nama. Dan diantara alif dan lam terdapat rahasia yang beraneka rupa,  dari rahasia ke rahasia, dari hakikat kepada hakikat yang hanya dapat dipahamkan oleh orang-orang yang berjiwa suci.
3.    Tafsir Ruh al-Ma'ani fi Tafsir al-Qur'an al-'Azim wa sab'I al-mathani, karangan Syihabuddin as-sayyid Muhammad  al-Alusi al-Baghdadiy (w. 1210).
Contoh penafsiran QS. Al-Baqarah : 55)
Al Alusy menafsirkan ayat tersebut : "Diantara yang dapat kita pahamkan dengan jalan isyarat, ialah hati kami tidak akan beriman dengan iman yang hakiki, sehingga kami sampai kepada maqam musyahadah dan dapat melihat Allah dengan mata kepala."
4.    Tafsir Ibnu Arabi, karangan Abdullah Muhammad ibn aliy ibn Ahmad bin Abdullah Muhyiddin Ibn 'Arabi al-Hatimiy (w. 638),

(QS. Al-Baqarah : 67)
وَإِذْ قَالَ مُوْسَى لِقَوْمِهِ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تَذْبَخُوْا بَقَرَةً
Ibn Araby menafsirkan makna perkataan tersebut dengan “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih nafsu hewaniyah...”
5.    Tafsir al-Bahr al-Madid fi tafsir al-Qur'an al-Majid, karangan Abu al-Abbas Ahmad Ibn Ajibah.
Sebagai contoh dalam menafsirkan ayat:
وَلَقَدْ خَلَقْنَا فَوْقَكُمْ سَبْعَ طَرَآئِقَ   ۖ   وَمَا كُنَّا عَنِ الْخَـلْقِ غٰفِلِيْن
"Dan sungguh, Kami telah menciptakan tujuh (lapis) langit di atas kamu, dan Kami tidaklah lengah terhadap ciptaan kami."(QS. Al-Mu'minun : 17)
Ibn Ajibah memaknai ayat tersebut:"....yakni, Kami (Allah) telah mencipta tujuh hijab (tujuh penutup) di atas hati-hati kamu..." Selanjutnya ia menjelaskan bahwa barang siapa yang mampu membuka penutup-penutup tersebut maka akan diberikan anugerah untuk dapat menyaksikan (musyahadah) cahaya-cahaya ilahiyah (al-anwar al-ilahiyah). Ketujuh hijab itu adalah hijab kekurangan dan aib diri, hijab kelalaian, hijab adat kebiasaan dan nafsu syahwat. Dan orang-orang yang mampu melawan kesemuanya itu dengan jalan taubat, proses tazkiyah al-nafs, kesadaran jiwa, iffah (tidak melakukan sesuat karena nafsu semata-mata), mengekang hawa nafsu, bermesra dengan Allah dan fana dari segala sesuatu selain Allah, maka hijab-hijab tersebut akan terangkat dari hatinya hingga akan sampai kepada ma'rifatullah.

B.    Historisitas
Menurut sumber sejarah, epistemologi Irfani ini telah ada baik di Persia maupun Yunani jauh sebelum datangya teks-teks keagamaan, baik Yahudi, Kristen, maupun Islam. Sementara dalam tradisi sufisme Islam, ia baru berkembang sekitar abad ke-3 H/9 M dan abad 4 H/10 M, seiring dengan berkembangnya doktrin ma’rifah (gnosis) yang diyakini sebagai pengetahuan bathin, terutama tentang Tuhan.Untuk membedakan  antara pengetahuan yang diperoleh melalui indera (sense; al-hissi) dan akal atau keduanya dengan pengetahuan yang diperoleh melalui kasf (ketersingkapan), ilham, ‘iyan, atau isyraq digunakan istilah tersenut . Di kalangan mereka, Irfani dimengerti sebagai ketersingkapan lewat pengalaman intuitif akibat persatuan antara yang mengetahui dan yang diketahui (al-ittihad al-‘arif wa al-ma’ruf) yang telah dianggap sebagai pengetahuan tertinggi.
Pengetahuan dalam term ini tidak didasarkan atas teks seperti bayani, tetapi pada kasyf, tersingkapnya rahasia-rahasia realitas oleh Tuhan. karena itu, pengetahuan Irfani tidak diperoleh berdasarkan analisa teks tetap dengan olah ruhani, di mana dengan kesucian hati, diharapkan Tuhan akan melimpahkan pengetahuan langsung kepadanya. masuk dalam pikiran, dikonsep kemudian dikemukakan kepada orang lain secara logis.
Irfani dalam bahasa asing dikenal sebagai Gnose atau Gnosis yang dalam bahasa Yunani diartikan sebagai pengetahuan, ilmu atau hikmah. Orang-orang yang menganut paham ini menganggap ilmu agamanya lebih tinggi dari keilmuan orang beriman biasa, dan bahkan dari para agamawan yang berpegang teguh pada akal (mutakallimin). Maka wajar jika penggunaan kata Irfani di kurun waktu kedua dan ketiga Masehi adalah untuk menggambarkan suatu pengetahuan agama yang lebih tinggi dari pengetahuan Gereja. Pada dasarnya, Irfani (gnosis) merupakan sejumlah aliran yang disatukan dengan satu anggapan bahwa pengetahuan terhadap Allah dan agama yang sebenarnya, harus didasarkan pada pendalaman kehidupan spritual dan menjalankan hikmah dalam setiap perbuatan. Dengan melalui cara itu, mereka menganggap dirinya menggunakan daya yang berada dalam ruang kehendak. Sebab Irfani dibangun atas dasar pengarahan kehendak dan bukan pengurasa pemikiran atau menjadikan kehendak sebagai ganti dari akal. Sehingga pengetahuan yang mereka peroleh bukan berasal dari penelitian atau pembahasan, melainkan dari riyadhah atau mujahadat.
Status dan keabsahan Irfani selalu dipertanyakan baik oleh tradisi berpikir bayani atau burhani. Epistemologi Bayani mempertanyakan keabsahannya karena dianggap terlalu liberal karena tidak mengikuti pedoman-pedoman yang diberikan teks, sedang epistemologi Burhani mempertanyakan keabsahannya karena dianggap tidak mengikuti aturan-aturan dan analisis yang berdasarkan logika. Apalagi dalam tradisi sejarah pemikiran Islam, apa yang disebut intuisi, ilham, qalb, dlomir, psikognosis telah terlanjur dikembangkan atau diinstitusionalisasikan menjadi apa yang disebut-sebut sebagai “tarekat” dengan wirid-wirid dan satahat-satahat yang mengiringinya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pandai Berkhayal

Epistemologi Tafsir Burhani

Biografi singkat Al-Syafi’i (Imam Syafi’i) sebagai Periwayat Hadis